Jiwa Yang Ditutupi Mendung
Ada Seorang jiwa yang kukenal, jiwa
yang menawan nan rupawan, kulihat dia yang diantara bumi yang luas dan langit
yang mendung, menunggu sesuatu diantara mendung yang tak hujan dan tak kunjung
terang.
Ada 3 hal yang menunggu sang jiwa :
1. Hujan yang datang membawa kesenangan dan kesedihan di antara air-air yang turun, sang jiwa bermain-main dalam derasnya hujan tanpa mengetahui hujan tersebut akan menjadi penyebab sakit di saat-saat yang akan datang.
2. Matahari yang memberikan Cahaya diantara mendung yang menutupi jiwanya, Cahaya yang mengusir awan gelap itu menghangatkan sang jiwa. Namun pada akhirnya sang jiwa tak mampu menahan cahaya tersebut dan hangus terbakar olehnya.
3. Sang Jiwa yang telah lama menunggu akhirnya bertemu dengan rembulan yang menyinari malamnya yang gelap namun tetap saja mendung masih mengikutinya dan terus mengikutinya menutupi bulan dan bintang di malam itu.
Pada akhirnya, sang jiwa hanya dapat
menatap ruang kosong diantara bumi dan langit yang mendung kala itu, sambil
berpikir “Apakah aku harus membelah langit ini agar mendung nya menghilang?”.
Tetap saja hal seperi itu tidak mampu dilakukan oleh sang jiwa. (Meskipun mampu
kuyakin mendung itu tetap akan menutupi langit sama seperti sebelumnya).
Semakin lama jiwa itu menunggu semakin tebal
pula awan mendungnya namun tanda-tanda akan turun hujan pun tak kunjung datang
dan cahaya pun tak mamu menembusnya, sudah berapa lama dia menunggu, satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Tak ada yang tahu kecuali sang jiwa itu sendiri.
Semakin lama dia menunggu, semakin
rapuh juga jiwa tersebut, sendirian, kesepian, tanpa lawan bicara, tanpa ada
yang bisa diajak bercanda, sang jiwa itu pun menangis sunyi tak ada yang
mengetahui, tak ada yang peduli.
Entah darimana ada jiwa lainnya yang memegang pundaknya, jiwa lain yang muncul dari kekosongan mencoba menghibur dirinya, rasa senang memenuhi sang jiwa, tanpa sadar lebih banyak jiwa yang datang, lebih banyak jiwa yang singgah, meskipun mendung tetap bersamanya setidaknya dia tidak menunggu sendirian ada banyak Orang yang Bersamanya, Orang yang akan senantiasa menemaninya Ketika dia sedih, Lelah, maupun marah karena mendung
Orang-Orang yang mampu dia sebut
sebagai “TEMAN”

Buatkan aku puisi
BalasHapusga mw
Hapuswaw keren
BalasHapus