[#] Hikayat Cinta







 Terima kasih

            Laut yang membawa ombak, mengikis pantai membawa pasir, menarik pasir menuju laut, berulang-ulang sampai kapan pun aku tak tahu. Angin yang membentuk ombak itu terasa dingin, menusuk nusuk kulitku yang tipis, rasanya tidak asing, perasaan yang dari dulu bersamaku.

 

Senja yang yang seharusnya sudah mulai terlihat tertutup oleh mendung yang semakin gelap, tak kusadari awan-awan gelap itu sudah tepat berada diatas kepala, suara petir dan halilintar yang bisa kudengar dengan jelas, mengingatkan ku pada perasaan yang selama ini selalu disisiku.   

 

Perasaan-perasaan yang tak kusadari ada bersamaku itu telah ditutup oleh mendung yang sangat tebal, mendung yang kubuat sendiri, yang ku kumpulkan sendiri, menutupi keaslian diri ini, menutupi segala kebenaran tentang diri ini

 

            Topeng-topeng yang palsu yang kupakai menyebunyikan hujan, badai, petir dan bencana lainnya. Diri ini tak menyangka puluhan topeng yang kupakai benar-benar menggantikan diriku yang sebenarnya, menyembunyikan yang asli dari dunia yang penuh kepalsuan ini.

 

            Matahari yang datang mengusir semua badai dan ombak yang bergejolak dalam diri, menyinari jiwa yang sendirian ini, mewarnai langit yang penuh dengan gelapnya mendung, menjadi biru cerah gemilang.

 

Topeng-topeng yang terpasang kokoh ini perlahan lahan runtuh, mungkin tak semua topeng ini lepas, namun setidaknya perasaan-perasaan yang diri ini tak pernah tahu itu ada, ada tanda-tanda bahwa perasaan itu  keluar, perasaan itu muncul.

 

Terima kasih pada matahari, pada semua yang menyokong diri ini sehingga bisa bertahan hingga saat ini, sebaiknya jangan terlalu diberi atau diri ini meminta sesuatu yang lebih dari matahari.

 

Terima kasih ku ucapak pada diri ini, tidak berhenti berjalan, meskipun meninggalkan bnayak hal, membuang banyak kesempatan, membuang banyak perasaan, terimakasih sudah selalu bertahan, terimakasih sudah selalu  berjalan.

 

Terima kasih.


Komentar