Terima kasih
Laut yang membawa ombak,
mengikis pantai membawa pasir, menarik pasir menuju laut, berulang-ulang sampai
kapan pun aku tak tahu. Angin yang membentuk ombak itu terasa dingin, menusuk
nusuk kulitku yang tipis, rasanya tidak asing, perasaan yang dari dulu
bersamaku.
Senja yang yang seharusnya sudah mulai terlihat
tertutup oleh mendung yang semakin gelap, tak kusadari awan-awan gelap itu
sudah tepat berada diatas kepala, suara petir dan halilintar yang bisa kudengar
dengan jelas, mengingatkan ku pada perasaan yang selama ini selalu disisiku.
Perasaan-perasaan yang tak kusadari ada bersamaku
itu telah ditutup oleh mendung yang sangat tebal, mendung yang kubuat sendiri,
yang ku kumpulkan sendiri, menutupi keaslian diri ini, menutupi segala
kebenaran tentang diri ini
Topeng-topeng yang palsu
yang kupakai menyebunyikan hujan, badai, petir dan bencana lainnya. Diri ini
tak menyangka puluhan topeng yang kupakai benar-benar menggantikan diriku yang
sebenarnya, menyembunyikan yang asli dari dunia yang penuh kepalsuan ini.
Matahari yang datang
mengusir semua badai dan ombak yang bergejolak dalam diri, menyinari jiwa yang
sendirian ini, mewarnai langit yang penuh dengan gelapnya mendung, menjadi biru
cerah gemilang.
Topeng-topeng yang terpasang kokoh ini perlahan lahan
runtuh, mungkin tak semua topeng ini lepas, namun setidaknya perasaan-perasaan
yang diri ini tak pernah tahu itu ada, ada tanda-tanda bahwa perasaan itu keluar, perasaan itu muncul.
Terima kasih pada matahari, pada semua yang menyokong
diri ini sehingga bisa bertahan hingga saat ini, sebaiknya jangan terlalu
diberi atau diri ini meminta sesuatu yang lebih dari matahari.
Terima kasih ku ucapak pada diri ini, tidak berhenti
berjalan, meskipun meninggalkan bnayak hal, membuang banyak kesempatan,
membuang banyak perasaan, terimakasih sudah selalu bertahan, terimakasih sudah
selalu berjalan.
Terima kasih.

Komentar
Posting Komentar